Menaruh Rindu di Curug Seribu

Baru Awal Perjalanan

Lewat temu, sebuah obat ampuh untuk menyembuhkan rindu. Lewat temu, sebuah momen yang selalu dinanti untuk melepas rindu. Lewat temu, sebuah cara jitu untuk menghapus rindu. Namun berbeda denganku, lewat temu, justru membuatku jadi menaruh rindu yang kuletakkan di sebuah tempat spesial yang bernama Curug Seribu.

Di masa pandemi ini, tempat wisata yang saya rindukan adalah air terjun. Mungkin sekitaran 6 bulanan lebih tak lagi main ke air terjun. Apalagi semenjak pandemi muncul dan menyebar hebat keseluruh penjuru Indonesia, imbasnya semua lokasi wisata ditutup akibat pemberlakuan Lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) setelah disetujui oleh pemerintah pusat.

Tapi, tidak apa-apa. Semua demi kebaikan bersama. Hikmahnya, kita memang hanya makhluk kecil yang lemah, tak berdaya menghadapi makhluk yang super kecil bahkan sampai sekarang pun belum ditemukan formulasi obatnya. Yang bisa kita lakukan adalah terus berikhtiar, harus bersabar dan saling menguatkan satu sama lain. Saya berdo’a, pandemi ini segera berakhir dan virus musnah dari bumi ini. Aamiin

Menjelang New Normal atau masa transisi ini, saya mendapat kabar berupa informasi yang bersumber dari media sosial bahwa beberapa lokasi wisata di Bogor mulai dibuka kembali untuk umum, termasuk wisata alam yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Pamijahan Bogor. Saya pun meresponnya dengan cepat, rencana lama yang sempat tertunda yakni berkunjung ke Curug Seribu pun, sepertinya siap saya realisasikan. Oiya, perlu saya ingatkan kembali, ketika pergi berwisata di masa pandemi ini, kita semua wajib selalu menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Area Parkir
Fasilitas WC Umum

Perjalanan kali ini saya ditemani oleh seorang teman lama bernama Vivi, awal perkenalan kami dimulai sudah sangat lama sekali bahkan kami berdua pun sampai lupa kapan perkenalan itu terjadi. Yang jelas, trip ini membawa kami berdua pada pertemuan perdana. Vivi tidak sendirian, dia mengajak salah satu adik perempuannya, si cantik Indah, yang ternyata masih berusia 15 tahun tapi postur tubuhnya lebih gede ketimbang kakaknya yang 9 tahun lebih tua dari Indah.

Melalui sebuah pesan WhatsApp, Vivi mengabariku kalau dia dan adiknya sudah berangkat dari rumahnya di daerah Bojong Gede Bogor. Sementara saya dalam kebingungan menghubungi satu persatu kontak teman yang ada di handphone untuk saya ajak ke Curug Seribu. Namun, tidak satupun yang bisa karena bermacam alasan. Hingga akhirnya, mendadak saya menelpon sepupuku Farid, Alhamdulillah dia mengiyakan ajakan saya, padahal dia belum tidur sama sekali semalaman dan kebetulan baru saja selesai melaksanakan ujian akhir semester lewat online. Kata Farid

Sejam kemudian, Vivi mengabariku lagi, kalau dia dan Indah sebentar lagi sudah mau sampai di lokasi yang sudah kami janjikan bersama yakni di sebuah pertigaan angkot. Saya dan Farid pun segera bersiap menuju kesana menunggangi motor tua merk Honda produksi tahun 70an.

“Aku jaket navy, kerudung item helm gojek. Kaka kasih tau plat dan baju kaka ya. Assalamu’alaikum.” Isi pesan Whatsapp dari Vivi

Tak lama berselang, setelah kami berangkat dari rumah Farid, Vivi kembali mengabariku lagi kalau dia sudah sampai di lokasi, dia menunggu di sebuah warung kecil yang tidak jauh dari pertigaan angkot. Singkat cerita, kamipun bertemu dan langsung bergegas melanjutkan perjalanan menuju wisata air terjun Curug Seribu yang berada di kawasan TNGHS.

Camping Ground
Pos Pendaftaran
Sangat Terjangkau

Menurut informasi yang saya dapat, akses untuk menuju lokasi Curug Seribu bisa melalui dua jalur yaitu via kawasan TNGHS dan Gunung Menir. Kami berempat memilih via Gunung Menir karena jarak dari parkir motor ke lokasi air terjun sangat dekat, cukup berjalan kaki kurang lebih 10 menit saja. Namun, ketika kami sampai di lokasi parkir Gunung Menir, ada salah seorang petugas disana memberitahu kami, kalau hari ini wisata Curug Seribu masih ditutup karena kebijakan PSBB dan akan dibuka kembali 10 harian lagi.

“Sekarang mah gini aja Kang, nanti mah kesininya harus pagi-pagi sebelum jam kerja dimulai, soalnya tadi juga jam 6 pagi ada satu rombongan dari Bekasi bisa masuk tapi pihak kami ga bertanggung jawab, ga dikasih asuransi kalau terjadi apa-apa sama mereka.”

Percakapan terakhir si petugas kepada kami sebelum akhirnya kami lebih memilih untuk tidak memaksa masuk. Lalu kami pun pamit dengan si petugas tersebut dan si ibu penjual pisang goreng dari lokasi parkir di Gunung Menir. Kami pun putar balik dan harus memutar cukup jauh untuk menuju kawasan TNGHS. Melewati jalanan berkelok, jembatan, hutan pinus, jalan rusak berbatu sampai tanjakan curam yang membuat saya sedikit khawatir dengan tenaga motor tua yang kami tunggangi. Alhamdulillah semuanya kami libas tanpa hambatan, beneran motor One Heart deh.

Sekitar jam setengah 11 siang, kami tiba di lokasi parkir Curug Seribu via kawasan TNGHS. Tanpa berlama-lama, kami langsung berjalan kaki menuju loket karcis yang letaknya cukup dekat setelah area berkemah. Disela-sela proses registrasi atau pendaftaran, saya pun sempat melontarkan pertanyaan kepada si petugas loket mengenai pintu masuk via Gunung Menir ditutup karena PSBB sedangkan via kawasan TNGHS sudah dibuka bahkan tadi di parkiran kendaraan sangat ramai pengunjung.

“Wah kalau soal itu mah Kang, jadi beda pengelola ya beda juga kebijakannya.” penjelasan si petugas loket.

Kini rasa penasaran saya terjawab sudah, tapi tambah bingung juga siapa yang patuh dan siapa yang bandel. Yang pasti, kami diberikan lembaran karcis termasuk asuransinya. Itu artinya, kunjungan kami ini resmi, tidak ilegal.

img_00868597346816425705285.jpeg
Jalan Menurun
Antri Bergantian

Untuk mencapai lokasi Curug Seribu ini, kami harus terlebih dahulu menuruni ratusan anak tangga yang cukup curam dan sempit di tebing tinggi dengan kemiringan yang cukup bahaya.

Ada sensasi deg-degan saat melewatinya, kami harus ekstra hati-hati dan selalu fokus memperhatikan kondisi jalan setapak yang sudah disusun rapi dari batu alam dan sudah diplur semen, tapi selebihnya masih berupa tanah dan batu. Bahkan di beberapa titik jalur, kami harus bergantian jalan dari dua arah karena kondisi jalur yang sempit dan licin tertutup lumut.

Pemandangan Curug Sawer
Aliran Air Curug Sawer
Banyak Pohpohan

Sepanjang perjalanan menuju lokasi air terjun, kami disuguhkan pemandangan alam yang sangat mempesona. Tampak pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dan berdiri tegak sehingga membuat kondisi jalan menjadi teduh dan rindang. Saya sangat menikmati suasana seperti ini, suasana hutan yang masih hijau alami dan asri memanjakan mata yang belum terpapar polusi. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah saung dekat dengan Curug Sawer yang memilik kondisi air yang begitu jernih dan dingin. Dari lokasi Curug Sawer ini, suara gemuruh terdengar makan jelas dan mulai menampakkan diri di balik rindangnya hijau dedaunan

Namun sayangnya, di beberapa titik jalur yang rawan dan membahayakan keselamatan pengunjung belum dipasang pagar pembatas. Meskipun selama ini saya belum pernah mendengar kabar ada kejadian pengunjung yang sampai terjatuh ke bawah jurang sedalam ratusan meter, ada baiknya segera dipasang pagar pembatas. Selain itu, pengelola obyek wisata, belum menyediakan banyak tong sampah, sangat kurang sekali. Terbukti saya pun menemui sampah plastik yang berserakan dimana-mana, yang dibuang sembarangan oleh ulah pengunjung bandel yang belum peduli dengan lingkungan.

Pemandangan Curug Seribu
Kolam di Bawah aliran curug

Alhamdulillah, setelah berjalan sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai juga di lokasi air terjun Curug Seribu. Ketika kami sampai ternyata sudah banyak sekali pengunjung yang ada di lokasi Curug Seribu.

Saya menjulukinya “Si Monster Waterfall”. Dari semua air terjun yang pernah saya kunjungi di Bogor, Curug Seribu adalah air terjun yang terbesar, terderas dan tertinggi yang ada di Bogor. Bahkan sebuah artikel mencatat Curug Seribu adalah air terjun tertinggi di Jawa Barat.

Beberapa sumber juga menyebutkan asal mula air terjun ini dinamakan Curug Seribu. Pertama, Curug Seribu berada di ketinggian antara 900 – 1050 Mdpl. Lalu yang kedua, disekitaran air terjun terdapat banyak aliran air yang menyerupai curug-curug kecil di sekeliling dinding tebing. Yang terakhir, ada juga yang menyebutkan jumlah tangga untuk menuju lokasi Curug Seribu totalnya sekitar 1000an lebih. Entahlah, sumber ke berapakah yang menurut kalian paling benar ?

img_01448693058860089381735.jpeg
Tali Pembatas
img_01375033408051337019683.jpeg
Suasana di Aliran Air Curug Seribu

Air terjun yang tercurah dari tebing setinggi sekitar 100 meter lebih itu memiliki ceruk berupa kolam dengan kedalaman 10 meter hingga 30 meter. Pengunjung hanya diperbolehkan bermain air diluar tali pembatas, sangat dilarang untuk mendekati apalagi berenang di area kolam karena terdapat pusaran air yang kuat dan kencang. Sebagai informasi, beberapa tahun ke belakang pernah terjadi wisatawan terpeleset dan terseret pusaran air hingga kehilangan nyawa.

Yang perlu diperhatikan ialah angin air terjun hasil benturan aliran curug dan bebatuan yang kencang mampu membasahi tubuh dan kamera dengan cepat, padahal dari jarak yang sangat jauh. Selain itu, percikan airnya mampu membiaskan cahaya matahari dan membentuk pelangi yang cantik sekali.

img_01095015648352849030654.jpeg
Fresh Outside
img_01251261533233153012376.jpeg
Vivi dan Indah
img_0129317275200999986924.jpeg
Pose Ala Farid

Selama berada di Curug Seribu, kami berempat tak ingin melewatkan momen untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera. Ada satu spot favorit kami disana yakni berdiri diatas sebuah tebing dengan latar belakang pemandangan Curug Seribu yang keren. Bukan Vivi atau Indah, justru sepupuku Farid yang paling sering meminta untuk di foto. Keindahan Curug Seribu sungguh sangat mempesona dan mengagumkan, siapapun yang datang kesana pasti akan takjub dengan kebesaran Allah SWT dan membuatku jadi menaruh rindu pada Curug Seribu.

Jam 1 siang, kami berempat meninggalkan lokasi Curug Seribu. Benar sekali apa yang dikatakan oleh temanku, kalau ke Curug Seribu perlu menyisakan tenaga ekstra karena kondisi jalan arah pulang berupa tanjakan, seorang Indah yang paling muda diantara kami berempat nampak beberapa kali berhenti untuk istirahat. Namun pelan tapi pasti, kami pun sampai kembali di lokasi parkir dengan selamat. Alhamdulillah

Informasi Curug Seribu

Curug Seribu berlokasi di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Terdapat dua akses menuju kawasan TNGHS yaitu pertama dari Ciapus, Tenjolaya dan Gerbang Gunung Bunder. Kedua, dari Kampus IPB Dramaga, Pertigaan Cibatok dan Gerbang Pamijahan. Untuk jarak tempuhnya kurang lebih 38 kilometer atau sekitar 1 jam 20 menit berkendara. Saran saya sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau Carter angkot karena tidak ada trayek angkot yang sampai ke kawasan TNGHS.

Fasilitas

Fasilitas di Curug Seribu cukup memadai, ada toilet, kamar ganti, musholla, kantin atau warung makan, area berkemah sampai penginapan.

Jam Operasional

Curug Seribu mulai dibuka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore.

Info Harga Tiket Masuk (HTM)

HTM kawasan TNGHS : Motor 25 ribu & Mobil 70 ribu. HTM Curug Seribu : Rp. 10 ribu perorang & Rp. 5 ribu perkendaraan sedangkan tarif berkemah dikenakan Rp. 15 ribu perorang (Berlaku untuk weekday & weekend).

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat.

Jangan lupa follow Instagram saya di Fatahilaharis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s