Gedung Tinggi Perpustakaan Nasional

Perpusnas RI

Pernah ngalamin nggak ? Pengen jalan tapi bingung gitu mau kemana. Eh, ujung-ujungnya nggak jadi, malah berleha-leha di rumah. Kalau ada yang pernah ngalamin kek gitu, Toss dulu ah, berarti kita samaan. Hmm maafkan ya agak absurd gini.

Mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dapat memberikan dampak positif bagi kita, saya yakin semua pasti setuju. Tidak harus pergi ke mall atau pusat perbelanjaan, bukan juga pergi ke toko buku, mondar-mandir nyari buku yang sudah rusak atau kebuka segel plastiknya terus cuma dibaca aja, jadi beli mah nggak. Siapa tuh yang begitu ? pengalaman banget deh.

Nah, salah satu kegiatan bermanfaat yang bisa kita lakukan di akhir pekan yaitu pergi berkunjung ke Perpustakaan Nasional (disingkat; Perpusnas) di Jakarta. Perpustakaan yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat ini bisa menjadi alternatif destinasi wisata kalian, apalagi kalau lagi pengen jalan tapi bingung mau kemana. Perpusnas adalah pilihan tepat !!

Depan Bangunan Heritage
Instalasi Seni
Deretan Galeri Foto
Ruang Media

Setelah berdiri selama satu jam lebih di dalam gerbong kereta commuter line keberangkatan Stasiun Bogor hingga turun di Stasiun Gondangdia lalu lanjut berjalan kaki sepanjang satu kilometer lebih padahal ada ojek online, akhirnya saya sampai juga di pintu masuk Perpusnas. Ternyata posisi gedung Perpusnas sendiri berada dibelakang bangunan heritage berasitektur Batavia yang telah dirapikan dan dikonsepkan layaknya museum. Kemudian, oleh petugas disana, saya dengan pengunjung lain dipersilahkan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam bangunan tersebut.

Gedung berlantai satu ini memiliki empat ruangan utama, dua disebelah kanan dan dua disebelah kiri. Ruangan-ruangan tersebut menampilkan instalasi seni, panel-panel gambar dan layar interaktif berisi informasi terkait perjalanan kepustakaan Indonesia. Gedung cagar budaya ini juga menyimpan replika asli perpustakaan sepeda keliling, informasi sejarah masuknya literasi di zaman penjajahan, aksara kuno hingga koleksi buku-buku bacaan.

Depan Gedung Perpusnas
Budaya Narsistik
_mg_2954-014399640804260619170.jpeg
Lobi Utama
_mg_2963-01233972652566482279.jpeg
Loker Penitipan Tas

Dari bangunan tadi, saya keluar melalui pintu belakang sekaligus akses utama menuju gedung Perpusnas. Rancangan gedungnya keren dan tingginya kurang lebih 126,3 meter, sampai-sampai saya menengadahkan kepala, penasaran bentuk atapnya seperti apa. Depan gedung banyak banget orang yang berswafoto, hmm memang ya people zaman now, kalau sudah nemu tempat kekinian tuh, auto narsis pake kamera ponsel pintarnya, cekrek cekrek. Ya gapapa sih, itu hak mereka, asal ikuti aturan yang ada dan nggak norak. Di sekitar depan gedung juga terdapat taman kecil dan bangku-bangku untuk beristirahat.

Masuklah saya ke lobi utama. Saya langsung disuguhi pemandangan rak buku raksasa super besar, tingginya mencapai langit-langit atau sejajar dengan lantai empat gedung. Oiya, gedung baru Perpusnas ini disebut-sebut sebagai perpustakaan tertinggi di dunia loh. Jadi ikut bangga deh, Indonesia punya gedung pepustakaan semegah ini. Suasananya serasa berada di mall atau pusat perbelanjaan modern gitu, nggak kaku dan ngebosenin. Katanya sih, jumlah keseluruhan lantai gedung ini ada 27 lantai, ada 24 lantai yang beroperasional dan 3 lantai lainnya nggak jelas difungsikan untuk apa.

Sebelum berkeliling, saya titipkan tas terlebih dahulu di loker penitipan tas, letaknya ada di sisi kanan lobi utama. Saya diberi kunci dan tas jinjing transparan untuk menampung barang-barang penting seperti ponsel, laptop, alat tulis dan dompet. Ingat, kuncinya jangan sampai hilang ya, repot urusannya nanti.

Layanan Keanggotaan
Ruang Pameran
Suasana Kantin Perpusnas

Pengunjung juga bisa menyempatkan diri untuk membuat kartu anggota Perpusnas ke bagian layanan keanggotaan perpustakaan yang berada di lantai dua gedung. Tahapannya mudah sekali, pengunjung tinggal isi atau input data diri menggunakan komputer lalu pegawai perpustakaan di masing-masing counter akan membantu mengambil foto dan mencetak kartu secara instan. Kartu anggota tersebut bisa digunakan untuk meminjam buku juga menikmati layanan E. Resources. Setelah kartu anggota jadi, saatnya kita berkeliling perpustakaan, kita lihat ada apa saja di setiap lantainya.

Selanjutnya, saya menuju lantai 3 dan 4 menggunakan eskalator. Lantai 3 merupakan zona promosi gemar budaya membaca dan zona komunitas perpustakaan yang biasanya digunakan untuk mengadakan berbagai acara. Sedangkan di lantai 4 terdapat area pameran dan kantin. Bukan sembarang kantin loh, kondisinya nggak kalah bagusnya dengan food court yang ada di mall-mall gitu, tempatnya nyaman dan bersih. Insya Allah saya jamin, menu disana rasanya enak dan ramah dikantong.

Sabar Mengantri Naik Elevator
_mg_2965-014357862906894231475.jpeg
Direktori Perpusnas
Balkon di Lantai 24
Wajah Jakarta

Eskalator sendiri hanya bisa mengantarkan pengunjung sampai ke lantai 4 saja. Untuk mencapai lantai 5 hingga lantai 24, pengunjung dapat menggunakan elevator yang berada di sisi kanan gedung. Tapi kalau kamu gagah, punya fisik kuat, bisa coba tuh naik lewat tangga darurat. Kalau saya mah angkat tangan deh, engap.

Di samping elevator selalu tersedia direktori atau petunjuk Perpusnas yang bisa jadi panduan buat pengunjung. Saya bisa bebas naik ke lantai mana saja menggunakan elevator. Namun, waktu itu saya kesana hari minggu, pengunjung Perpusnas ramainya bukan main, mungkin bisa mencapai ratusan orang bahkan ribuan yang berasal dari berbagai daerah di sekitar Jakarta. Saya pun harus ekstra sabar mengantri dan berdesakan di dalam elevator, padahal sudah tersedia 4 elevator plus 1 elevator cadangan disana. Elevator  pun meluncur cepat, mengantarkan saya menginjakkan kaki di lantai 24 gedung Perpusnas. Yeah

Di lantai 24 ini terdapat layanan koleksi budaya nusantara, pada bagian kiri ada executive lounge yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai gitu. Perpusnas memberikan pengalaman membaca yang berbeda kepada pengunjungnya. Di area luar terdapat balkon dimana pengunjung bisa duduk santai sembari menikmati wajah Jakarta yang dipenuhi hutan beton dan diselimuti kabut polusi. Bagi yang memiliki phobia ketinggian seperti saya, jangan coba-coba deh mendekat ke dinding kaca apalagi sampai menyender, sebaiknya dihindari, bisa bahaya karena celaka menyapa kapan saja.

Tumpukan Literasi
Kesibukan Pegawai Perpusnas
Komputer Pencari Katalog Buku

Selanjutnya, saya turun kembali dan singgah di lantai 21 dan 22, ruangan Layanan Koleksi Monograf Terbuka. Disini, terdapat banyak meja yang bisa dimanfaatkan untuk membaca buku dan mengerjakan tugas dengan laptop. Ada juga ruang-ruang diskusi kedap suara yang bisa digunakan secara gratis. Namun, jumlah yang ada tak cukup menampung jumlah pengunjung yang datang, membludakkk. Sebagian ada yang membaca sambil berdiri diantara deretan rak buku bahkan ada yang sampai duduk dan senderan di anak tangga.

Kedua lantai ini tak ubahnya seperti perpustakaan kampus. Nampak seorang pegawai perpustakaan tengah sibuk merapikan tumpukan buku yang digeletakan begitu saja diatas meja. Oiya, wahai warga +62 yang baik hatinya, setelah membaca, biasakan untuk mengembalikan buku di tempat semula ya. Di lantai 21 ini juga terdapat komputer-komputer pencari katalog buku sehingga memudahkan pengunjung untuk mendapatkan buku yang diinginkan.

Ruang Audiovisual
Layanan Koleksi Foto, Peta dan Lukisan
_mg_2926-018447856385081651778.jpeg
Lupa Lagi Lantai Berapa Ini
_mg_2937-01395899669551482341.jpeg
Ruangan Layanan Anak

Saya juga masih sempat untuk singgah di beberapa lantai lainnya, diantaranya lantai 18 dan 17 (Ruangan Aipi), lantai 16 (Layanan Koleksi Foto, Peta dan Lukisan), kemudian kebawah lagi singgah di lantai 11 yang merupakan ruangan penyimpanan koleksi monograf tertutup dan lantai 8, Layanan Koleksi Audiovisual. Lantai terakhir yang saya singgahi yaitu lantai 7, Layanan Koleksi Anak, Lansia dan Disabilitas. Ruangan layanan anak ini dirancang khusus untuk anak-anak. Pada dinding dan pilar-pilar ruangan ini dipenuhi hiasan mural warna-warni ceria, ada gambar-gambar yang terinspirasi dari cerita rakyat Indonesia. Di ruangan ini terdapat koleksi buku bacaan anak-anak dan aneka permainan. Untuk masuk ke ruangan ini, pengunjung wajib membuka alas kaki karena lantai di ruangan ini full karpet. Pokoknya next time, saya akan ajak anak-anak padahal punya istri satu saja belum. Jomblo lagi kambuh penyakit halunya

Tidak semua lantai bisa saya singgahi, selain terbatasnya waktu jam operasional yang akan segera berakhir, kondisi badan juga tidak memungkinkan, sudah mulai capek dan sempoyongan. Terdapat juga satu lantai yang memang tidak banyak yang bisa saya eksplor, salah satunya lantai 9, Ruangan Koleksi Naskah Nasional, pengunjung tidak boleh sembarang mengambil gambar, untuk sekedar membaca pun harus mengisi data diri terlebih dahulu dan membawa surat pengantar dari masing-masing instansi pengunjung dan untuk keperluan apa, semuanya harus jelas.

Menurut sumber yang saya baca, total koleksi buku bacaan yang ada di Perpusnas kurang lebih 2,6 juta buku. Sekali seumur hidup, isilah akhir pekan kalian dengan cara pergi ke Perpusnas RI, Insya Allah sangat bermanfaat, banyak pengetahun baru yang bisa kita dapatkan disana. Saya pun ada rencana untuk pergi kesana lagi.

Ayo ke Perpusnas RI.

Informasi tambahan

Perpusnas buka setiap hari. Hari Senin s/d Kamis 08.30-18.00 WIB, Jumat 09.00-18.00 WIB dan Sabtu s/d Minggu 09.00-16.00 WIB kecuali hari besar libur. Untuk masuk ke Perpusnas tidak dikenakan tarif alias gratis. Info lengkapnya bisa kalian akses web resminya di Perpusnas.go.id

Terima kasih telah membaca tulisan ini dan semoga bermanfaat.

Jangan lupa follow Instagram saya ya Fatahilaharis

 

6 tanggapan untuk “Gedung Tinggi Perpustakaan Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s