Ruang Pamer Gedung Munasain

_mg_8088-016915643992174520600.jpeg

Jalan-jalan ke museum yuk ? Ets tahan dulu ya, mungkin bagi sebagian orang menganggap kalau museum itu terkesan kuno, ketinggalan jaman atau jadul lah, hmm bikin gregett deh. Padahal, museum yang sekarang tuh sudah banyak yang berubah. Pemerintah melalui program revitalisasinya terus berupaya melestarikan cagar budaya, salah satunya merevitalisasi museum di seluruh Indonesia. Zaman Now, penataan museum memang sangat diperlukan, semuanya dirombak baik pada bagian eksterior maupun interior bangunannya sehingga mengundang minat masyarakat terutama anak millenials mau mengunjungi museum.

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (disingkat: MUNASAIN), salah satu museum yang telah mendapat program revitalisasi. Bagian luar gedung museum ini memang tampak biasa saja seperti gedung perkantoran pada umumnya. Tapi begitu masuk kedalam gedung, saya langsung terpikat dengan desain interior gedung museum. Wow very excited!

Sebelum berkeliling ruang pameran, pengunjung akan diminta untuk mengisi buku tamu di bagian pendaftaran. Harga tiket masuk terbilang sangat murah dan terjangkau yakni sebesar Rp. 5000 ribu. Eh dikasih brosur juga sama si teteh cantik, lumayan. Museum yang menempati Gedung Herbarium Bogoriense tersebut memiliki empat lantai di atas tanah dan satu lantai dasar bawah tanah. Semenjak soft lunching pada Mei 2016, sementara baru dua lantai yang dapat dinikmati pengunjung. Nantinya, pengembangan Munasain akan dilakukan secara bertahap per lantai hingga semua lantai dapat digunakan dan memiliki satu cerita yang saling berkesinambungan.

Bagian Depan Gedung Munasain
Ruang Informasi dan Pendaftaran

Sejarah singkat Munasain

Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (disingkat: Munasain) diresmikan oleh Wakil Kepala LIPI Dr. Achmadi Abas (Alm.) Munasain merupakan pengembangan Museum Etnobotani Indonesia (MEI) yang dicetuskan oleh Prof . Saworno Prawirohardjo sejak tahun 1962, yang merupakan kepala LIPI pada saat itu. Pada tanggal 18 Mei 2016. Revitalisasi Munasain diprakarsai oleh Prof. Enny Sudarmonowati sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati dan peneliti Pusat Penelitian Biologi.

Pesatnya perkembangan teknologi modern memungkinkan mudahnya hubungan antar pulau di Indonesia, bahkan antar negara. Teknologi modern ini dapat mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan suku bangsa di Indonesia. Sebagai akibatnya pengetahuan tradisional tentang alam mengalami erosi, sehingga dirasakan perlu untuk dipelajari serta didokumentasikan.

Indonesia dihuni lebih dari 500 entri atau lema. Tiap lema itu memiliki kebudayaan yang berbeda sesuai dengan adat dan tatanan yang berlaku, antara lain dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Oleh karena itu didirikanlah Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MUNASAIN).

Tujuan dikembangkannya Munasain diantaranya sebagai model pendidikan ilmu pengetahuan tentang pemaknaan sumber daya alam dan perubahan lingkungan hidup di Indonesia, sebagai media komunikasi secara interaktif dengan masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai sejarah alam dan kehidupan manusia, mempromosikan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pemahaman tentang iptek “science education fasilities”, menyediakan bahan-bahan pembelajaran penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam serta lingkungan berdasarkan keselarasan kearifan lokal dengan sistem modern.

Memasuki Ruang Pamer
_mg_8044-019073804203975484490.jpeg
Penjelasan Ekplorasi Emas Hijau Nusantara
Cikal Bakal Terbentuknya Kebun Raya Bogor
_mg_8050-013281869656857289519.jpeg
Rhumpius, Tokoh Naturalis
Karya Besar Rumphius

Saat memasuki ruang pameran, saya langsung disambut dengan pemandangan dinding yang dipenuhi panel-panel informasi dan tampilan gambar lebih segar dan menarik seputar sejarah alam Indonesia. Dibagian awal ruang pamer ini menampilkan gambar archipelago Indonesia dan emas hijau nusantara (rempah) bersanding dengan panel informasi mengenai eksplorasi emas hijau nusantara dari masa Inggris, Perancis, Belanda hingga Spanyol dan Portugis.

Di museum ini juga memberikan penjelasan kepada pengunjung mengenai sejarah awal terbentuknya Kebun Raya Bogor lengkap dengan informasi tokoh-tokoh berpengaruh dalam pendirian dan perkembangan Kebun Raya Bogor.

Di bagian lain terdapat panel informasi seorang tokoh bernama Rumphius, nama aslinya adalah Georg Eberhard Rumpf, seorang naturalis yang membukukan keanekaragaman hayati Indonesia pertama. Selama kurang lebih 50 tahun hidupnya di Ambon, Rumphius menghasilkan karya monumentalnya yaitu Herbarium Amboinese yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda menjadi Het Amboinische Kruidboek. Buku tersebut mendeskripsikan mengenai tumbuhan, lingkungannya dan juga kegunaannya untuk obat-obatan, baik itu tumbuhan yang hidup di darat maupun tumbuhan yang hidup di laut.

_mg_8051-016821794839880784212.jpeg
Ruang Kerja Tempo Doeloe
_mg_8052-016520068175500579858.jpeg
Koleksi Benda Laboratorium

Kemudian saya berpindah ke sebuah ruangan kecil. Ruangan tersebut merupakan ruang kerja ilustrasi botani dan perpustakaan tempo doeloe. Berbagai ilustrasi gambar dapat kita jumpai dan referensi kehati juga dituangkan kedalam koleksi bukun ilmiah yang tersimpan rapih dan baik diruangan ini.

Disampingnya terdapat ruang laboratorium tempo doeloe untuk analisis pemanfaatan tumbuhan. Ekplorasi pemanfaatan tumbuhan Indonesia dan diteliti lebih lanjut untuk mengetahui potensinya sebagai obat, kosmetik dan lainnya. Penelitian tumbuhan di laboratorium pertama kali diinisiasi oleh seorang ilmuwan asing bernama Melchior Treub.

Di ruang laboratorium ini saya dapat melihat berbagai benda yang biasa ada di laboratorium dan peralatan survey lapangan seperti rak tabung reaksi, rotary evaporator, mikrotom, stereoskop, botol bahan kimia, gunting stek, gps, altimeter dan masih banyak lainnya. Namun yang membuat saya kaget adalah patung macan dahan (neofolis deardi), predator terbesar Pulau Kalimantan ini termasuk dalam ordo keluarga kucing-kucingan dan hewan ini terancam punah akibat deforestasi hutan alami.

Penampakan Perahu Layar
Panel Informasi Lembaga Penelitian
Sketsa Wajah Para Perintis
_mg_8036-013489627328495088263.jpeg
Sejarah Alam dan Kehidupan Manusia

Di bagian lain, saya mendapat tambahan penjelasan lain mengenai perkembangan Kebun Raya Bogor. Eksplorasi untuk mengembangkan Kebun Raya Bogor terus berlangsung, dengan bantuan kolaborator, ahli taksonomi herbarium, pakar perikehidupan alam dan botani terandal lainnya melahirkan lembaga penelitian yang berkembang dari Kebun Raya Bogor seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriensis (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Kebun Ekonomi Cikeumeuh (1876), Lembaga Botani Umum Treub (1889), Laboratorium Tanah (1890), Museum Zoologicum Bogoriense (1894), Lembaga Penyelidikan Laut (1904), Hortus Sibolangit (1914), Laboratorium Penelitian Kimia (1934), Lembaga Pengawetan Alam (1937), Hortus Purwodadiensis (1941), Laboratorium Perikanan Darat (1947), Kebun Raya Indonesia (1953), Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam Setia Mulia (1955), Lembaga Biologi Nasional (1962) dan lembaga penelitian lainnya yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Benda bersejarah lain yang ada di museum ini ialah sebuah perahu layar berusia puluhan tahun terbuat dari kayu randu dan berasal dari Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Tak hanya menyaksikan benda bersejarah, tapi juga seolah saya diajak melintasi ruang dan waktu pada zaman yang berbeda-beda. Tidak hanya pergi ke zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan, bahkan lebih lama lagi pada zaman prasejarah.

Di lantai satu ini ada pameran tentang sejarah alam dan kehidupan manusia mencakup posisi bumi dalam jagad raya, terbentuknya benua dan samudera, alam purbakala, perikehidupan sebelum manusia dan masa penghunian.

_mg_8035-0152476422410162190.jpeg
Suasana Didalam Ruang Pamer
Penjelasan Singkat Biogeografi Indonesia
Pergi ke Jaman Pra Sejarah
Dua Jenis Bunga Langka Asli Indonesia
Domestika dan Adaptasi

Ruang pameran yang disebut juga ruang introduksi ini mengenalkan kepada pengunjung tentang biodiversitas Indonesia secara lengkap dan mudah dipahami. Salah satu pengetahuan yang disajikan museum ini yaitu pameran yang menjelaskan posisi Indonesia terletak pada pertemuan 4 lempeng besar dunia, istilah populernya ring of fire atau cincin api. Sedikit informasi, Indonesia merupakan bagian dari jalur vulkanik di busur pasifik yang membuat pola sebaran sumber daya hayati yang unik menjadikan ciri khas pada budaya masyarakatnya.

Tidak cukup sampai disitu, masih dengan tema yang sama, di museum ini terdapat pameran berisi informasi tentang geologi, geografi, biogeografi Indonesia, arkeozoic era, paloezoic era, demostifikasi dan adaptasi serta diversitas kehidupan biota yang terangkum apik dalam bentuk visualisasi gambar lengkap dengan keterangannya.

Namun yang menarik perhatian saya adalah adanya replika bunga bangkai dan bunga rafflesia yang dibuat mirip dengan aslinya, terlihat cantik dan eksotis. Kedua bunga tersebut merupakan jenis bunga yang langka dan dilindungi di Indonesia. Selain replika bunga, ada juga patung macan tutul dan beruang madu. Kerennya lagi, museum ini memiliki ruangan mini teater berkapasitas lebih dari 20 orang. Pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter dengan lama durasi 45 menit yang ditayangkan pada jam tertentu.

_mg_8064-012222664506433021537.jpeg
Tema “Manusia dan Lingkugan”
_mg_8074-017275241483659052307.jpeg
Masa Pertanian
_mg_8075-011727406253679993290.jpeg
Koleksi Alat Pertanian Tradisional

Pada tanggal 29 Juli 2019, Munasain baru saja meluncurkan tema pameran yaitu manusia dan lingkungan. Tema manusia dan lingkungan merupakan refleksi terhadap betapa bergantungnya manusia dan lingkungan begitu pula keduanya. Tema pameran ini menjelaskan proses kegiatan manusia mencari makan demi kelangsungan hidup bermodalkan insting dan naluri. Bukti sisa-sisa pemburu, pengumpul dan peramu yang berusia jutaan tahun, mendorong penafsiran kembali tentang perubahan peradaban manusia dalam memanfaatkan sumber daya hayati termasuk menelusuri domestika tumbuhan dan hewan serta sejarah perkembangan pertanian.

Umat manusia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk belajar bagaimana mendapatkan makanan selain dari berburu, menangkap dan meramu yaitu dengan cara bertani. Bukti awal sejarah perkembangan pertanian di dunia dapat ditelusuri melalui sejarah manusia ketika melakukan domestika tumbuhan dan hewan. Di ruangan ini ditampilkan diorama manusia purba dan alat pertanian seperti bajak sawah dan lesung.

Ruangan Sejarah Rempah
Hasil Bumi Indonesia
Sudut lain

Masih di lantai satu. Saya mulai memasuki sebuah ruangan khusus yang memamerkan bermacam-macam rempah dan bumbu masak yang biasa saya jumpai di dapur. Ruangan tersebut adalah ruangan sejarah rempah. Munasain mengemas bermacam rempah dengan tampilan menarik dan full color, selain dipaparkan melalaui infografis, tapi juga melalui audio visual dan layar multimedia sehingga pengunjung tidak perlu repot untuk mengetahui informasi dari seluruh koleksi rempah yang ada di ruangan ini.

Tidak hanya tahu sejarahnya saja, pengunjung juga jadi tahu bentuk asli rempah tersebut bahkan baru pertama kali melihatnya. Di ruangan ini dipamerkan macam-macam rempah hasil bumi Indonesia, seperti cengkeh, kapulaga, biji pala, cabe Jawa, kunyit, jahe, bawang dan lainnya.

_mg_8080-017856711878433757396.jpeg
Lorong Lantai Dasar
_mg_8083-015855335866431682897.jpeg
Sudut Lain
_mg_8085-017691625831826756782.jpeg
Artefak-Artefak
_mg_8082-013268119275822034307.jpeg
Tumbuhan Obat Tradisonal

Selanjutnya saya turun ke lantai dasar untuk melihat koleksi-koleksi artefak dengan jumlah keseluruhannya ada 2000 nomor koleksi dari seluruh penjuru nusantara. Saya pun mendapatkan pengetahuan baru dan berkesempatan untuk bisa melihat langsung artefak-artefak tersebut yang merupakan bagian dari pemanfaatan sumber daya alam berbasis kearifan lokal yang dipamerkan di ruangan lantai dasar.

Artefak-artefak tersebut diletakkan rapi diatas rak-rak dan lemari display. Meskipun suasananya agak gelap, pencahaannya tidak seterang lantai satu, tidak mengurangi antusias saya untuk menjelajahi setiap sudut ruangan.

Ada banyak kekayaan alam yang sudah diolah menjadi barang-barang tradisional dan juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang dijadikan untuk keperluan rumah tangga seperti pakaian tradisional, mainan anak, peralatan kerja, perlatan berburu, peralatan pertanian, alat perikanan dan penangkap ikan, alat musik,, alat tenun, jamu, pengobatan, kesehatan dan sebagainya. Ada juga miniatur rumah tradisional yang terbuat dari bambu dengan atas dari dedaunan. Selain itu, terdapat bermacam-macam pakaian dan kain adat dari berbagai daerah, peta lahan gambut dan informasi mengenai kebun teh Gunung Mas.

_mg_8079-014880304077036377300.jpeg
Alat Tenun
_mg_8078-015285793466895982035.jpeg
Mainan Tradisional, Congklak

Museum Etnobotani yang kini telah bertransformasi menjadi Munasain, tampil dengan wajah baru yang lebih fresh dan kekinian. Tampilan barunya sudah edukatif, komunikatif dan interaktif.  Pengembangan informasinya pun lebih baik dan profesional. Keberadaan Munasain amatlah penting, diharapkan kids zaman now lebih tertarik lagi datang ke museum ini.

Pulang dari Munasain, saya mendapatkan wawasan dan pengetahun baru tentang sejarah alam dan keanekaragaman hayati Indonesia. Munasain juga berhasil menumbuhkan kepedulian saya terhadap kekayaan alam Indonesia, menggugah pikiran dan memberikan pengantar untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.

Alam menawarkan berbagai kemungkinan kepada manusia dan makhluk hidup lainnya untuk mengenali, memahami dan memanfaatkan sumber daya hayati beserta lingkungannya, dalam rangka mempertahankan hidup dan melestarikan keturunannya.

“Misteri dari segala misteri tentang alam dan perikehidupannya dituliskan dalam evolusi melalui adaptasi, modifikasi dan seleksi. Manusia, status dan kedudukannya di alam sangat bergantung pada kemampuan melihat, memegang dan berfikir.” Museum Sejarah Alam Indonesia.

Kalian harus ke Munasain !!

Informasi tambahan

Munasain berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No. 24, Gedung Herbarium Bogoriense Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Jam operasional: Senin-Jumat (08.00-16.00 WIB), Sabtu-Minggu (09.00-14.00 WIB). Info lengkapnya ada di Munasain

*Catatan: Beberapa informasi dalam tulisan ini dikutip dari beberapa sumber di internet.

Terima kasih telah membaca tulisan ini dan semoga bermanfaat.

Jangan lupa follow Instagram saya ya Fatahilaharis

6 tanggapan untuk “Ruang Pamer Gedung Munasain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s