Catatan Sang Jenderal di Museum Peta

Gerbang Utama

Rabu, 3/4/19. Bisa dibilang, kunjungan ke Museum Peta ini memang tanpa rencana alias dadakan. Awalnya, saya hanya berniat menemani ibu yang ingin menghadiri acara kajian rutin muslimah sampai selesai, lokasinya di masjid salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kota Bogor. Tapi saya pikir, cukup lama sekali bila harus menunggu di masjid sampai kajian tersebut selesai. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk berkunjung ke Museum Peta yang berlokasi di Jalan Jenderal Soedirman No. 35 Kota Bogor.

Setiap kali mengunjungi museum, itu artinya saya harus bisa berdamai dengan hati dan masa lalu, bukan tentang drama percintaan melainkan tentang sejarah penting bangsa ini. Dan juga menuntut saya belajar seantusias layaknya seorang sejarawan agar tidak buta sejarah alias melek sejarah. Lalu, selanjutnya menggali informasi penting sebanyak mungkin berisi catatan peristiwa dan kejadian yang ada di museum tersebut, salah satunya ialah Museum Peta.

Negeri ini menyimpan catatan panjang sejarah, sejarah yang berisi nilai perjuangan dan pengorbanan terhadap tanah air tercinta demi bebas dari segala jenis penjajahan. Dahulu, para pemuda terbaik bangsa ini secara sukarela dan ikhlas menjadi tentara pembela tanah air. Perjuangan para ksatria yang tidak sama sekali mengharap imbalan sepeserpun rupiah dan tidak pernah gentar menghadapi sehebat apapun lawan. Bukan hanya cucuran keringat, mereka siap menghadapi situasi apapun, baik itu terjadi pertumpahan darah, gelontoran harta bahkan sampai kehilangan nyawa.

Beberapa tokoh penting yang tergabung sebagai lulusan tentara Peta yaitu Jenderal Besar Soeharto, Jenderal Besar Soedirman, Jenderal Besar Soepriyadi dan tokoh penting lainnya yang telah berjasa besar, sumbangsih dan peranan mereka dalam meraih kemerdekaan. 

Area Halaman Belakang
Relief Pada Dinding Lorong

Saya bertemu seorang petugas yang tengah duduk bersantai diantara dua patung tentara Peta yang berdiri gagah yaitu Sodancho Soepriyadi, sang panglima TKR penerima pangkat dari pemerintahan Jepang dan panglima besar Soedirman yang bersanding dekat dengan kendaraan alutsista Tank AMX 13-APC buatan asal Perancis

Petugas tersebut langsung menghampiri dan menyapa saya, beliau nampak ramah dan murah senyum kepada setiap pengunjung museum. Kemudian saya dan petugas tersebut berjalan ke arah lorong gedung museum dimana kedua sisi dindingnya dipenuhi relief-relief artistik berwarna coklat tua dan nampak hidup sebagai gambaran situasi pada saat itu. Ujung lorong tersebut menembus hingga ke area halaman belakang museum. Disana terdapat monumen Jenderal Soedirman yang berdiri tegak dan gagah, sementara lengan kirinya tengah menggenggam sebilah pedang dan dua meriam berukuran sedang mengapit posisi berdirinya sang jenderal.

Sejarah Singkat Museum Peta

Gedung yang difungsikan sebagai museum ini dibangun pada tahun 1745 oleh tentara Knil dengan gaya bangunan Eropa (Inggris). Pada tahun 1943 gedung tersebut digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan tanah air walaupun masih di bawah kontrol Jepang.

Museum Pembela Tanah Air disingkat Museum Peta mulai didirikan pada tanggal 14 november 1993, sebagai bentuk penghargaan kepada para lulusan tentara Peta atas sumbangsihnya dalam pendirian bangsa dan negara. Selain itu, museum ini memberikan gambaran perjuangan kemerdekaan dan persiapan meraih kemerdekaan Indonesia.Pembangunan Museum PETA dimulai pada tanggal 14 November 1993 dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden RI yang juga merupakan sesepuh YAPETA yaitu Umar Wirahadikusumah. Pembangunan tersebut memakan waktu kurang lebih 2 tahun dan diresmikan oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 18 Desember 1995. (Sumber: Wikipedia)

Ruangan Pamer Soedirman
wp-image-93614121
Peristiwa rapat raksasa 19 September 1945 di lapangan IKADA, Jakarta
Detail Senapan
Pistol Tentara Knil

Dari lorong gedung, kemudian saya masuk ke ruangan kecil yang dikelilingi oleh rak berisi buku-buku yang tersusun rapi. Ternyata ruangan tersebut merupakan ruang kantor dan perpustakaan sekaligus tempat registrasi tiket masuk museum. Registrasi selesai, saatnya keliling museum !!

“Kunjungan umum kan ? untuk keperluan apa ?” tanya petugas.

“Iya pak kunjungan umum, untuk keperluan bahan tulisan di blog saya.” jawab saya

Museum Peta memiliki dua ruangan tata pamer yaitu ruangan pamer Soedirman dan ruangan pamer Soepriyadi, posisinya saling berhadapan. Ruangan pertama yang saya masuki ialah ruangan Soedirman. Desain ruangan tersebut tidak begitu luas dan memanjang sehingga setiap gerak pengunjung bisa saya lihat meskipun dari ujung ke ujung. Kondisi ruangan yang memang minim pencahayaan dan kesan bangunan lama yang masih kuat, cukup membuat ritme jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Namun, tidak lama setelah itu, masuk pengunjung lain ke ruangan yang sama. Alhamdulillah, rasanya lega. 

Replika Tandu dan Deretan Mortir
Dua Bapak Bangsa
Penampakan Rute Gerilya

Ruangan Pamer Soedirman

Didalam ruangan ini terdapat berbagai diorama situasi dan kondisi saat jaman penjajahan. Total diorama yang ada di Museum Peta berjumlah 14 diorama. 7 ada di ruangan pamer Soedirman dan sisanya ada di ruangan pamer Soepriyadi. Setiap diorama tersebut tertera tulisan berisikan informasi dan judul antara lain, peristiwa rapat raksasa 19 September 1945 di Lapangan IKADA Jakarta, pemilihan panglima besar tentara keamanan rakyat 12 November 1945 dan peristiwa lainnya.

Tak hanya diorama, ada pula koleksi persenjataan yang pernah digunakan oleh para tentara Peta. Senjata-senjata tersebut tertata apik di dalam lemari kaca dan dipajang pada rak kayu khusus. Sebagian besar senjata tersebut merupakan produksi Eropa, Asia dan ada juga dari Kanada. Beberapa jenis senjata tersebut diantaranya mortar, water mantel, senapan arisaka, pistol, terdapat juga teropong dan kompas. Semuanya terawat dengan baik.

Selain itu, terdapat juga informasi mengenai sejarah ABRI, replika tandu Panglima Besar Soedirman dan yang menarik perhatian saya ialah pada saat melihat peta rute gerilya Panglima Besar Soedirman. Sepanjang itu rutenya ? seketika saya sangat bangga dan takjub kepada beliau, sosok yang cerdas dan brilian. Pencetus taktik gerilya, salah satu taktik perang melemahkan musuh terbaik dan dunia mengakuinya. Beberapa tahun ke belakang, kisah beliau diabadikan melalui karya film layar lebar.

Ruang Pamer Soepriyadi
Kegiatan latihan di Pusat Pendidikan Perwira Pembela Tanah Air Bogor (1943)
Patung Prajurit Jepang
Bendera Indonesia dan Tentara Peta

Ruangan Pamer Soepriyadi

Selanjutnya berpindah ke ruangan pamer Soepriyadi. Pada saat masuk ke ruangan tersebut, nuansa Jepang begitu kental, banyak benda-benda yang khas dari negeri sakura. Mulai dari senjata tajam sampai seragam prajurit. Sementara itu, pandangan saya langsung tertuju ke arah sebuah benda yang ada didalam salah satu lemari kaca. Benda tersebut berupa pedang samurai asli khas negara Jepang milik Daidancho R. Mohamad Mangoendiprojo. Bentuknya sedikit melengkung dan lumayan panjang. Sebelumnya, saya tidak pernah melihat langsung pedang samurai sebagus dan seantik ini, apalagi pedang samurai tersebut asli benda peninggalan sejarah dan memiliki nilai historis.

Selain pedang samurai tadi, ruangan ini juga menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah khas Jepang lainnya yaitu patung prajurit gyuhei, komandan regu bundancho, vitrin baj, pedang katana asli, bendera tentara Peta dan informasi tanda pangkat militer di zaman Jepang yang semuanya tersimpan rapih dan dalam kondisi yang baik. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih lengkap dan merinci mengenai korelasi antara tentara Peta dengan pemerintahan Jepang di zaman Jepang. Saya yakin, teman-teman pembaca pasti pernah mempelajarinya dan tentunya lebih paham dari saya mengenai hal tersebut.

Ruangan ini juga memamerkan berbagai koleksi benda sejarah lainnya seperti lembaran surat berkabar tempo dulu, foto-foto para tokoh, peta Jawa Madura dan Bali, riwayat hidup Soerjo Keiri Shodancho, diorama, daftar nama tentara Peta Blitar saat melawan penjajah Jepang, piagam Museum Peta, miniatur komplek Museum Peta dan tanda cinderamata berupa plakat pemberian dari berbagai rombongan anak sekolah di Indonesia.

_MG_0073-01
Pedang Samurai dan Foto-Foto
Surat Berkabar Tempo Dulu
Riwayat Hidup Tokoh Tentara Peta

Beberapa fasilitas yang tersedia di Museum Peta antara lain, tempat duduk untuk beristirahat, toilet, mushola dan lemari pendingin berisi minuman. Retribusi tiket masuk yaitu 10 ribu rupiah perorang dan parkir kendaraan gratis. Sementara untuk jam operasional hari senin sampai jumat mulai buka pada jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Sedangkan hari sabtu sampai minggu mulai buka pada jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan adalah setiap pengunjung harus berpakaian sopan dan rapi, menjaga sopan santun dan menjaga ketertiban. Kemudian tidak boleh membawa senjata, tas atau kantong, makan dan minum selama didalam ruang pamer dan beberapa peraturan lainnya.

Puas mendokumentasikan semua yang ada di Museum Peta. Saya pamit pulang ke petugas tersebut dan meninggalkan area museum kemudian bergegas ke tempat kajian untuk menjemput ibu.

Yuk belajar sejarah di Museum Peta.

Terima kasih telah membaca tulisan ini dan semoga bermanfaat

Jangan lupa follow Instagram saya ya Fatahilaharis

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Catatan Sang Jenderal di Museum Peta

  1. paling suka kalo ke museum sejarah liat dioramanya, ibarat melihat meliat masa lalu dengan visualisasi 3D… museum peta ini cukup bagus ya penampilannya, gak semuram museum militer lain yg pernah saya liat

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s