Menapak Tilas Pemandian Batu Quran

Menapak Tilas Batu Quran

Dampak dari cuaca ekstrim sangat terasa sekali ketika saya berada di Kabupaten Pandeglang tepatnya di daerah Cikoromoy, sekitar 10 kilometer dari pusat kota. Hujan tak henti-hentinya membasahi tanah yang dulunya wilayah kekuasaan kerajaan Banten ini, bahkan sampai pagi pun langitnya masih mendung dengan awan hitamnya disertai angin yang berhembus cukup kencang, rasanya ingin menarik selimut dan melanjutkan tidur kembali. Masyarakat disana biasa menyebutnya angin barat, angin yang berasal dari laut kemudian berhembus ke daratan, siklus tahunan ini terjadi antara bulan desember hingga maret. Rencana awal kami untuk pergi ke pantai pun terpaksa kami batalkan karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Batal ke pantai kami ubah tujuan wisata menggantinya dengan berkunjung ke salah satu wisata religi di Pandeglang bernama Batu Quran. Lokasi Batu Quran sendiri jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari tempat kami bermalam. Karena jarak yang dekat, kami semua sepakat untuk berjalan kaki saja menuju Batu Quran sekaligus olahraga pagi sembari menikmati suasana desa yang masih asri. Namun sebelum berangkat, kami sempat disuguhi penganan tradisional khas Pandeglang bernama Jojorang. Rasanya enak dan manis karena ada campuran gula merahnya, sekilas mirip dengan Papais. Satu lagi penganan khas Pandeglang yang saya coba, sebelumnya saya sudah mencicipi Kue Balok Hj. Djamsinah.

Baca juga : Cicipi Kue Balok Hj. Djamsinah

Pintu Masuk

Cikoromoy pagi hari

Nuansa pedesaan yang masih asri dan sejuk serta pemandangan sawah yang terhampar luas memberikan suasana damai pagi itu. Adanya Gunung Pulosari dan Gunung Karang yang mengapitnya mempengaruhi kondisi alam Cikoromoy begitu subur dan sumber air yang melimpah ruah. Cikoromoy mempunyai sumber mata air yang tersebar di beberapa titik dan saling berdekatan. Hampir semua mata air disana sudah dikelola dan difungsikan oleh masyarakat sekitar menjadi objek wisata alam. Namun yang paling populer dan selalu ramai didatangi pelancong adalah pemandian Batu Quran.

Kami tak kesulitan mencari lokasi pemandian Batu Quran karena salah seorang dari kami merupakan orang asli Cikoromoy, dia sering juga ke Batu Quran. Akses satu-satunya menuju pintu masuk pemandian Batu Quran yaitu melalui sebuah gang kecil yang berada diantara deretan warung dan lapak penjual beragam cinderamata khas Pandeglang. Kemudian tinggal turun saja melalui tangga dan sampailah di pintu masuk pemandian Batu Quran.

Pintu Masuk Kolam Wanita
wp-image-1667074052
Petugas Karcis

Pemandian Batu Quran memiliki dua buah kolam. Awal mulanya pengunjung laki-laki dan perempuan bebas berendam dalam satu kolam, tidak terpisah. Kemudian pada tahun 2015 hingga sekarang, pengunjung laki-laki dan perempuan tidak boleh  lagi berendam dalam satu kolam, dipisahkan oleh dinding tembok. Kolam untuk laki-laki berukuran lebih kecil dibandingkan dengan kolam perempuan. Keberadaan pohon beringin berukuran besar memberikan kesan alami di kolam laki-laki.

“Silahkan yang laki-laki kolamnya disebelah sini, yang wanita dikolam yang satunya lagi.” kata seorang bapak penjual karcis masuk.

Harga karcis masuk pemandian Batu Quran sangat terjangkau yakni sebesar Rp. 5 ribu perorang. Beberapa dari kami pun langsung membuka kaos dan tidak sabar untuk meloncat ke kolam. Pagi itu kolam laki-laki masih sepi, belum banyak pengunjung. Biasanya pada siang hari akan banyak pengunjung yang berendam di kolam apalagi pada saat akhir pekan seperti sekarang.

Masih Sepi
Para Jomblo Sedang Asyik Bercengkerama

Kisah Syekh Mansyur dan Batu Quran

Batu Quran bukan hanya sebagai tempat berendam namun juga sebagai tempat berziarah. Pada saat saya berada disana pun banyak sekali para peziarah yang berduyun-duyun mengantri untuk membeli satu kompan kecil berisikan air yang sudah dibacakan. Keberadaan Batu Quran juga menyimpan cerita sejarah yang perlu saya gali lagi lebih dalam. Asal muasal Batu Quran tidak terlepas dari seorang tokoh Banten bernama Syekh Mansyur, seorang ulama pemberani, cerdas, piawai dalam memainkan alat-alat kesenian bernafaskan Islam.

Menurut cerita yang beredar, lokasi Batu Quran yang terletak ditengah kolam laki-laki tersebut merupakan bekas pijakan kaki Syekh Mansyur ketika hendak pergi ke tanah suci, Mekkah. Dengan membaca do’a sampailah beliau di tanah suci. Ketika Syekh Mansyur pulang dari Mekkah, beliau muncul bersama dengan air tanah yang tidak berhenti mengucur dengan derasnya, bahkan dikhawatirkan akan menenggelamkan Banten jika tidak cepat-cepat ditutup. Banyak orang yang meyakini bahwa air yang mengucur tersebut adalah air zam-zam.

Syekh Mansyur kemudian bermunajat kepada Allah dengan melaksanakan shalat dua rakaat didekat pusat keluarnya air tersebut. Selesai shalat, Syekh Mansyur kemudian mendapat petunjuk untuk menutup air tersebut dengan Alquran. Atas izin Allah, air tersebut berhenti mengucur dan Alquran tersebut berubah menjadi batu sehingga dinamakan Batu Quran.

Penampakan Batu Quran
Segerrrr

Keanehan di Batu Quran

Berdasarkan penuturan seorang penjaga, air kolam pemandian yang dalamnya hanya sekitar 1 meter hingga dasar kolam tak bisa kering sekalipun musim kemarau berlangsung panjang, dan konon pengeringan kolam pernah dilakukan sebelumnya untuk meneliti keberadaan Batu Qur’an tersebut, dan anehnya air kolam tidak pernah mau kering. Walaupun disedot pipa air bertekanan ratusan kubik perjam.

Secara kasat mata batu Qur’an tersebut akan terlihat seperti batu pada umumnya. Dan katanya, dengan cara apapun dan dengan alat apapun tidak akan bisa terlihat tulisan Al-Qur’an di batu tersebut. Tulisan Al-Qur’an pada batu tersebut hanya bisa dilihat dengan mata batin, hanya orang yang hati dan jiwanya bersih bisa melihat tulisan Al-Qur’an tersebut. Sebagian peziarah yang datang meyakini air dari kolam Batu Qur’an memiliki khasiat sebagai obat.

Kemudian bagi yang bisa menyelam dan berenang sambil mengitari Batu Qur’an sebanyak 7 kali, permintaannya akan terkabul. Jangankan sebanyak 7 kali, saya mencoba sekalipun selalu gagal dan teman-teman saya pun paling hebat hanya mampu 3 kali mengitari Batu Quran tersebut. Tapi tidak apa-apa, bukan masalah, pagi itu kami menikmati segarnya air kolam di Batu Quran. Andai saja kolam serupa ada di Bogor, mungkin akan lebih ramai lagi  dan saya bisa berendam setiap akhir pekan.

Catatan

Beberapa informasi di tulisan ini saya dapatkan dari berbagai sumber baik dari internet maupun narasumber langsung. Harap berhati-hati dengan oknum yang meminta pungutan liar di sepanjang jalan menuju objek wisata pemandian Batu Quran.

Yuk ke Batu Quran.

Terima kasih telah membaca tulisan ini dan semoga bermanfaat.

Jangan lupa follow Instagram saya ya Fatahilaharis

6 tanggapan untuk “Menapak Tilas Pemandian Batu Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s