Cerita dan Mitos Situ Lengkong Panjalu

Photo by Adhi Wardhana

Semenjak sepupu saya yang perempuan menikah dengan orang Tasik, hampir setiap tahun saya selalu liburan kesana. Sejak pertama kalinya diajak berlibur kesana, sayapun langsung suka dengan suasana disana, masih sepi kendaraan dan luasnya pesawahan yang ditanami padi jauh dari hingar bingar perkotaan.

Setiap kali liburan ke Tasik pasti mereka selalu mengajak saya ke beberapa tempat wisata di Tasik, kadang kulineran ke pusat kota atau naik ke kawah Gunung Galunggung. Tapi, kali ini mereka mengajak saya ke salah satu tempat wisata didaerah Panjalu Ciamis. Namanya Situ Lengkong.

Baca juga : Manisnya Liburan di Kota Galendo

Jarak dari rumah saudara saya ke Situ Lengkong tidak begitu jauh, hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit saja. Sepanjang perjalanan banyak bis yang hilir mudik kearah Situ Lengkong padahal kondisi jalannya masuk ke perkampungan dan tidak begitu lebar juga menanjak, hanya muat untuk dua mobil kecil seperti yang kami tumpangi.

Situ Lengkong, sesuai namanya merupakan sebuah danau seluas 57,95 hektar. Danau dengan kedalaman berkisar antara 4 sampai 6 meter tersebut, istimewanya, juga memiliki sebuah pulau (nusa) seluas 9,25 hektar yang disebut Nusa Larang atau Nusa Gede.

Pemandangan dari tepi danau
Perahu yang siap mengantar pengunjung untuk mengelilingi Situ Lengkong

Kondisi alam sekitar Situ Lengkong yang sejuk khas daerah pegunungan dan jauh dari polusi, menjadikan pengunjung dapat betah berlama-lama berdiam di kawasan konservasi tersebut. Selain itu, pengunjung bisa mengelilingi dan melihat keseluruhan keindahan alam Situ Lengkong dengan menyewa perahu yang bersandar ditepi dermaga.

Fasilitas yang terdapat di obyek wisata Situ Lengkong antara lain: tempat parkir, perahu, Tolet dan mesjid.  Di sekitar danau, juga banyak dijual cinderamata dari bambu, aneka bordir unik, gelang kayu,  terasi udang asli, makanan tradisional Sunda, dan banyak oleh-oleh khas Ciamis lainnya.

Suami dan anaknya sepupu saya
Foto keluarga
Mumpung disini, ikutan difoto
Foto dari atas parkiran

Dibalik keindahannya, Situ Lengkong menyimpan banyak cerita dan mitos yang berkembang dimasyarakat dan diyakini oleh mereka sampai sekarang.

Apa saja cerita dan mitos di Situ Lengkong ?

Sebagai Tempat Berziarah

Selain sebagai wisata alam, Situ Lengkong juga merupakan wisata ziarah, disana terdapat makam leluhur setempat yang selalu ramai didatangi oleh para peziarah yang berasal dari sekitaran Ciamis bahkan dari luar kota. Biasanya mereka berziarah ke makam kuno Prabu Hariang Kancana putra Sanghyang Borosngora.

Terdapat Musium

Namanya Musium Bumi Alit, dimana disana tersimpan benda-benda purbakala seperti Menhir, Batu Pengsucian, Batu Penobatan serta naskah-naskah dan pekakas peninggalan milik Raja-raja Panjalu masa lalu, antara lain berupa pedang, cis dan genta (lonceng kecil) peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.

Nusa Gede atau Nusa Larang Yang Merupakan Pusat Kerajaan Panjalu

Ditengah Situ Lengkong terdapat sebuah pulau kecil bernama Nusa Gede. Konon, Nusa Gede awalnya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu, selain juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di sini juga terdapat makam penyebar agama Islam yang bernama Mbah Panjalu yang sampai sekarang dikeramtkan oleh masyarakat Panjalu.

Air Danau Yang Berasal Dari Percikan Air Zam-Zam

Konon, air danau Situ Lengkong tercipta dari tetesan air zam-zam yang dibawa dari tanah suci. Setelah bertahun-tahun belajar agama di tanah Arab, Borosngora, yang kini telah beragama Islam, berniat kembali ke Panjalu. Untuk membuktikan bahwa pengetahuan agamanya telah mumpuni, sang guru mensyaratkan harus membawa air zam-zam ke dalam keranjang yang berlubang-lubang.

Setelah sampai di Panjalu, air zamzam tersebut kemudian ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Ajaib, lembah tersebut kemudian bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.

Dihuni Makhluk Gaib Sejenis Naga

Menurut mitos yang beredar turun temurun dari mulut kemulut dimasyarakat Panjalu. Situ Lengkong dihuni oleh makhluk gaib berbentuk ular besar dan panjang menyerupai seekor Naga. Makhluk gaib tersebut diyakini masyarakat sebagai sosok penjaga Situ Lengkong.

Keberadaan makhluk tersebut memang diyakini oleh masyarakat sebagai pelindung, jikalau ada manusia yang ingin berniat jahat untuk merusak keasrian Situ Lengkong Panjalu.

Kisah Harimau Jadi-Jadian

Dalam kisahnya, kedua harimau bernama Bombang Larang yang jantan dan Bombang Kencana yang betina ini sebenarnya adalah manusia dan cucu kembar dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Si kembar Bombang ini lahir di Panjalu dan saat remaja, mereka berguru kepada orang sakti.

Namun sayang, keduanya melanggar aturan guru mereka dengan mandi di kolam atau mata air yang jernih berisi aneka ikan. Si kembar Bombang ini berubah jadi harimau. Kedua harimau ini lantas diurus oleh Raja Panjalu saat itu dan Maung Panjalu berjanji akan menjaga kelestarian alam serta memangsa mereka yang merusak alam.

Sejak saat itu sampai sekarang, jika warga disekitar Panjalu merasa melihat harimau dihutan, mereka akan beranggappan itu adalah harimau jadi-jadian Bombang Larang dan Bombang Kencana yang sedang berpatroli.

Orang Sumedang Dilarang Datang Ke Panjalu

Menurut cerita yang berkembang disana, setiap orang sumedang yang akan menikahi pasangannya orang panjalu, tiba-tiba waktu di perjalanan terjadi hujan deras di sertai angin kencang.

Upacara Nyangku

Untuk menghormati leluhur Panjalu, maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu biasa melaksanakan upacara adat yang disebut Nyangku.  Acara ini dilaksanakan setiap Bulan Maulud dengan cara membersihkan benda-benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit.

Catatan

Beberapa cerita dan mitos diatas saya salin dan kutip dari berbagai sumber di internet dan narasumber langsung agar tak menjadi simpang siur dan bisa dipertanggungjawabkan kebenaran mengenai cerita dan mitos yang berkembang di Situ Lengkong.

Percaya atau tidak percaya, cerita dan mitos diatas sudah menjadi bagian dari sejarah Situ Lengkong Panjalu, masyarakat setempat sangat memegang teguh aturan adat yang berlaku disana dan mempertahankannya sebagai bagian dari kebudayaan yang terus berkembang secara turun temurun.

Sebagai pendatang seperti saya, tentunya segala tingkah laku harus dijaga dan tidak berucap sembarangan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan tidak menyinggung kearifan masyarakat setempat serta yang terpenting adalah sebagai orang yang beragama, selalu berdoa kepada Allah agar diberikan selalu keselamatan jiwa dan raga.

Lokasi dan Info Situ Lengkong

Situ Lengkong Panjalu berada pada kordinat 7 7′ 49.56″ S, 108 16′ 21.26″ E. Di sebelah utara, situ ini berbatasan dengan wilayah Talaga Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.

Untuk mencapai obyek Situ Lengkong cukup mudah.  Dari arah Bandung dapat ditempuh melalui jalur Ciawi, Panumbangan, Panjalu, dengan jarak sekitar 100 Km. Sedangkan dari Ciamis, berjarak sekitar 35 km melalui jalur Buniseuri, Kawali dan sampai di Panjalu.

Harga tiket perorangnya Rp. 4 ribu dan Parkir Rp. 2 ribu perkendaraan.

Terima kasih telah membaca tulisan ini dan semoga bermanfaat.

Jangan lupa main dan follow instagram saya ya Fatahilaharis

 

Iklan

10 tanggapan untuk “Cerita dan Mitos Situ Lengkong Panjalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s